CURHAT PARA ISTRI | KIRIM ARTIKEL | PENDAFTARAN JADI PENULIS

Selamat datang di Blog Family Writing

Tanpa kita sadari, ternyata banyak hal tak bisa kita ungkap dengan berbicara. Anehnya ketika tercurah lewat tulisan, gelora itu melesat keluar begitu saja. Jiwa kita terbebas dengan keluarnya kata demi kata.

Kita semua pasti punya cerita. Tak peduli kita penulis profesional atau bukan. Karena itu kami undang Anda menuliskan cerita-cerita Anda. Caranya mudah sekali. Bergabung, lalu Login dengan username dan password Anda, lalu mulailah bercerita. Ayo Bergabung! Klik Disini.

  BONUS PULSA GRATIS DARI INTERNET
Bisnis bagus bagi yang sibuk, gak punya waktu, dan merasa gaptek dengan internet. Gak kerja sendiri soalnya!
  ROKOK HERBAL - ROKOK KESEHATAN
Menakjubkan sekali! Merokok kini tak lagi menakutkan. Bahkan rokok herbal ini berfungsi jadi OBAT yang menyembuhkan beberapa penyakit. Yang mau jadi distributor di kota anda, ini kesempatan bagus... sebelum yang lain mendahului :)
Tue
23
Jun

Berhentilah bermimpi!

Posting by admin

Stop Dreaming, Start Action” Itulah kira-kira yang sedang banyak dikampanyekan berbagai blog saat ini. Pencetusnya adalah Jokosusilo.com

Stop dreaming? Apakah maksudnya berhentilah bermimpi? Bukankah bermimpi itu wajib, kalau kita ingin hidup di atas rata-rata? Bukankah hanya impian yang membuat diri kita kuat, bertahan, tak mudah menyerah, tak takut badai, terus bangkit lagi, walau apapun yang menghalangi? Bak Alif tak izin mati…

Bukankah impian adalah rahasia besar yang menggerakkan perubahan di berbagai belahan dunia ini? Bukankah impian adalah syarat nomor satu yang ditulis buku-buku suci para praktisi MLM dan Network Marketing?

Apa sebenarnya maksud Joko Susilo dengan stop dreaming start action? Apakah tak boleh kita bermimpi? Apakah bermimpi itu buruk? Bukankah bermimpi itu gratis? Mengapa perilaku dreaming harus kita stop! Siapa orang yang disuruh oleh Joko untuk stop dreaming itu? Apakah saya termasuk?

Bukankah sebenarnya yang saya lihat justru malah sebaliknya? Betapa banyak orang malah “takut bermimpi”, mengubur impiannya, memadamkan nyala nya yang mungkin sempat sesaat menyinari jalan hidupnya. Lalu hanya karena merasa gagal, akhirnya ia membunuh impiannya, lalu menguburnya dalam-dalam. Kepada kelompok ini ‘kan gak perlu disuruh stop dreaming … lha wong dreaming nya aja nggak pernah?

Kalau begitu pada siapa? Saya sempat juga memperhatikan ada sekelompok orang yang dreaming terus. Mereka selalu “memberi makan” dreaming nya, merawat dreaming nya begitu rupa, sehingga dreaming nya makin menyala, menggelegak, menggetarkan seluruh nadi dan ototnya, mendesakkan energi yang tiara tara. Orang-orang akan melihat mereka ini ia seperti “orang gila”.

Mereka tampak aneh di mata kebanyakan manusia. Mereka  sering meracau sendirian, bicara begitu semangat, tak kenal lelah, lupa waktu, lupa makan, lupa istri, lupa anak …. bahkan! Yang ada dalam ruangan hidupnya adalah dreaming nya. Mereka terus berjalan, walau terseok-seok, bergerak terus menuju impiannya. Namun memang jumlah”orang gila” ini amat sangat sedikit. Pada umumnya mereka tergolong orang yang tak puas berada dalam zona “good life” (kehidupan yang baik)  … mereka terus berenang menuju “great life” (kehidupan yang luar biasa).

Jadi, kalau begitu … berarti ‘kan dreaming itu penting! Tanpa dreams, kita sama saja dengan manusia rata-rata, dan hidup kita pun akan biasa-biasa saja. Lantas  mengapa Joko susilo mengampanyekan stop dreaming? Sebenarnya apa makna stop dreaming yang dia maksud? Sebagai salah satu tokoh kunci pebisnis online ulung yang malang melintang di jagad dunia internet Indonesia ini, tentulah ia punya pandangan khusus sehingga ia bisa sampai pada sari kesimpulan yang begitu mengkristal: STOP DREAMING START ACTION!

Barangkali, ia melihat begitu banyak orang hanya punya impian saja, tapi tak pernah berusaha meraihnya. Banyak sekali orang punya banyak keinginan, banyak kemauan, tapi tak pernah memulai langkah pertama. Tak mau membayar harganya. Banyak orang ingin sukses, tapi takut untuk gagal. Banyak orang ingin kaya, tapi tak pernah belajar bagaimana tumbuh menjadi personal yang “kaya”. Banyak orang ingin punya tubuh ideal, tapi tak pernah konsisten merawat tubuhnya. Banyak orang ingin freedom, ingin bebas dari masalah waktu dan finansial … tapi sangat kikir untuk menginvestasikan waktu dan uangnya. Banyak ibu yang ingin punya anak yang shaleh, tapi tak pernah memberi contoh bagaimana menjadi manusia yang shaleh. Ya, banyak sekali contoh-contoh disekitar kita …. Anda pasti tahu siapa-siapa saja orang-orangnya.

Kalau konteks nya seperti itu, saya kira Joko Susilo ada benarnya juga. Karena itulah ia seolah menghardik, “START ACTION!” Mulailah bekerja. Mulailah ambil tindakan. Ambil keputusan. Jangan tunda lagi. Lakukan dalam tindakan nyata. Jangan ngimpi doang, lakukan aja!

Selengkapnya baca artikel di pustaka nilna berjudul Stop Dreaming Start Action!

Sphere: Related Content

Thu
28
May

Mitos tentang Belajar

Posting by maya

oleh: Maya A Pujiati - Pendidikan Rumah

Bertahun-tahun lamanya sejak sekolah lahir, hakikat belajar lambat laun terselubungi mitos-mitos yang mendukung keberadaan institusi tersebut. Apakah itu? Jeanette Vos dalam bukunya yang padat berisi, berjudul The Learning Revolution menuliskan 4 hal, yaitu:

1. Sekolah adalah tempat terbaik untuk belajar
2. Kecerdasan bersifat tetap
3. Pengajaran yang menghasilkan pembelajaran
4. Kita semua belajar dengan gaya yang sama.

Kini, bahkan di sekolah sekalipun, sedikit demi sedikit konsep tentang belajar seperti 4 mitos di atas semakin ditinggalkan. Meski masih “terbata-bata” menerjemahkan paradigma belajar yang lebih menyenangkan, banyak sekolah, khususnya sekolah swasta memberlakukan cara belajar mengajar yang lebih dinamis: Buku pelajaran full color, tempat belajar ditata penuh warna, guru yang bersahabat, metode mengajar berbasis konsep multiple intelligence, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Akan tetapi, ternyata tak semua orang bisa memasuki wilayah belajar senyaman itu, karena kenyamanan yang diperoleh tak bisa dibayar hanya dengan senyuman, melainkan harus dengan merogoh uang jutaan. Sanggupkah?

Terlepas dari sanggup ataupun tidaknya kita mengeluarkan dana jutaan untuk sekolah yang nyaman, saya justru menemukan esensi penting dari semakin gugurnya mitos belajar seperti dikatakan Vos. Menurut saya, sejak jaman dulu, saat sekolah belum se-eksis sekarang, belajar bukanlah pekerjaan, sehingga seseorang yang ingin belajar harus tunduk pada sebuah birokrasi kerja. Belajar adalah kebutuhan hidup yang dengannya manusia bisa menjadi manusia mandiri. Karena itulah, orang seharusnya bisa belajar di manapun mereka menemukan sesuatu yang pantas, yang menarik, atau yang berguna untuk dipelajari.

Bukankah kisah-kisah para pencari ilmu di masa lalu memang lebih seru. Saking menariknya, sampai-sampai bisa dibuat serial cerita pengembaraan berpuluh atau bahkan beratus-ratus episode. Para pencari ilmu mengembara dari satu tempat ke tempat lain, mencari guru-guru yang faqih di bidangnya masing-masing, lalu kembali pulang sembari mengamalkannya di sepanjang perjalanan.

Saya rasa, kini pun hal semacam itu masih relevan dan akan terus relevan sepanjang waktu. Modal pentingnya hanyalah satu, yaitu Semangat untuk Belajar. Tanpa semangat belajar, anak lulusan sekolahan pun acapkali tergagap-gagap melihat realitas hidup, karena sesungguhnya mereka tak boleh berhenti belajar jika berniat mengarungi dunia nyata. Selama anak-anak tak kehabisan semangat belajar, mereka akan terus menjadi pembelajar mandiri di manapun mereka berada, dan mereka Insya Allah akan sanggup menghadapi tantangan hidup.

Masih percaya mitos?

Sphere: Related Content

Tue
3
Mar

Mengdikte Diri untuk Syukur

Posting by Zulfikar Akbar

Tadi malam, keasyikan main catur dengan tetangga, tanpa terasa baru bisa tidur jam 3 pagi. Syukur pulas. Jam 5 bangun lagi saat jelang Shubuh. Ke mesjid sambil menikmati udara dingin pagi, wah aroma pagi terasa sangat indah—wah kaya puisi saja—.

Beberapa hal yang saya syukuri hari ini adalah:

1. Saya bisa bangun untuk shalat shubuh berjamaah walaupun hanya tidur 3 jam. Saya merasa menang atas diri sendiri yang sebenarnya sempat nyaris memaksa saya untuk tidur lebih lama.

2. Saya senang, jama’ah shalat Shubuh di Mesjid Jeuram semakin ramai saja. Kalau beberapa tahun lalu hanya 4-5 orang setiap Shubuh, sekarang telah penuh satu shaf, kira-kira jumlahnya sudah mendekati 50 orang, alhamdulillah.

3. Saya bisa berangkat ke kantor, sekalipun sebenarnya kantong sedang tipis habis. Apalagi tadi ditengah jalan, sekitar 15 KM dari rumah, dan 2O KM lagi ke kantor, ban motor bocor. Alhamdulillah, datang pertolongan dari adik angkatku, Darwis yang bayarkan ongkos tempel ban motor.

Alhamdulillah, Saya bisa mengucapkan syukur, karena tidak menujukan pikiran pada beberapa kendala riil yang sedang Saya hadapi. Baik persoalan kantong kempes habis, ban motor yang bocor ditengah jalan, sampai dengan perut keroncongan kehabisan uang.

Yah, ini hanya bentuk renungan, bahwa mengingat sisi anugerah yang diberikan Tuhan ternyata lebih membuat tenang daripada melulu melihat pada kekurangan yang ditemui saat menjalani merangkaknya matahari.

Melongok pada yang saya alami hari ini, seakan Tuhan menitipkan pesan:” Aku akan selalu memberikan setiap sesuatu yang memiliki 2 sisi yang bertolak belakang. Hal ini untuk membuatmu lebih mengenal diri, apakah engkau menujukan pikiranmu pada sisi minus dan engkau mengeluhkannya, ataukah engkau bersyukur dengan pemberian-Ku. Jika engkau mensyukuri apa yang Aku berikan, Aku pasti akan memberikan yang lebih baik padamu, tetapi jika engkau hanya bisa mengeluh, maka engkau hanya akan merasa susah, engkau hanya akan selalu memposisikan diri sebagai korban, sebagai pecundang. Seorang prajurit tangguh bukan cuma yang bisa berperang dengan segala perlengkapan yang ia miliki. Namun, prajurit tersebut harus bisa tetap maju sekalipun ia hanya diberikan amunisi sekedar yang mungkin dimilikinya. Disini yang menentukan ksatria dengan pecundang

Jeuram-Meulaboh 25022009

Published also in:

http://fickar.multiply.com

Sphere: Related Content

Sun
9
Nov

Senangnya, Saat Anak Makin Mandiri

Posting by maya

oleh Maya A. Pujiati | DuniaParenting.com

Kemandirian adalah salah satu tujuan pendidikan dan pengajaran. Hal itu tak bisa disangkal merupakan sebuah tolok ukur keberhasilan yang membanggakan bagi para pendidik di manapun.

Proses menuju mandiri berlangsung sejak anak-anak lahir. Tugas orang tua-lah untuk membimbing anak-anak untuk mencapai kemandirian sesuai dengan fase usianya. Hal pertama yang harus disadari adalah kenyataan bahwa belajar menuju kemandirian akan diawali dengan “kesalahan”.

Cobalah kita cermati atau kita ingat-ingat perilaku bayi-bayi kita. Awalnya bayi-bayi hanya bisa terlentang dan perlu bantuan kita untuk telungkup, namun lama- kelamaan mereka bisa melakukannya sendiri dengan terus berlatih setiap hari. Seiring usia, bayi pun terus meningkatkan keterampilan fisiknya, dari duduk, merayap, merangkak, berdiri, hingga berjalan. Dan ternyata, ada beberapa hal yang jika sekiranya kita abaikan, perkembangan keterampilan fisik itu jadi terlambat atau bahkan kurang berkembang dengan baik.
Baca selengkapnya, klik disini!;

Sphere: Related Content

Sun
9
Nov

Waiting List

Posting by Tri

Seribu satu cerita bisa dibuat pada saat mudik lebaran ke kampung halaman. Ini adalah satu cerita yang tertinggal dan hampir terlupa pada saat saya mudik ke kampung halaman, padahal inilah cerita yang berhikmah.

Saya pulang ke Tasikmadu, Karanganyar mungkin jika saya sebut hanya seperti itu, orang tidak akan tahu tetapi jika saya sebut daerah itu tempat makam Ibu Tien dan Bp Suharto mantan presiden pasti pada bilang OOOO…bulat.

Dari Bandung saya naik kereta api sampai stasiun Solo. Dari stasion ke tempat saya kira – kira 15 Km saya dijemput oleh bapak dan ibu. Di sepanjang perjalanan selain tentu saja menanyakan kabar orangtua, saya menanyakan kabar nenek, saudara – saudara dekat dan bahkan para tetangga.

Sambil menerawang kearah pemandangan sawah, ku - recall  obrolan – obralan dengan orang tuaku lebaran – lebaran sebelumnya. Dengan sekilas aku bisa membuat summary bahwa hampir setiap tahun selalu ada yang meninggal. Entah itu saudara dekat ataupun tetangga. Yang meninggal tidak semuanya karena usia yang uzur tetapi yang muda juga ada. Mereka meninggal karena kecelakaan, terkena penyakit dan serangan jantung mendadak. Seribu satu cara bisa menjadi jalan untuk kematian jika Allah sudah menghendaki. Aku masih teringat lebaran tahun lalu aku masih ketemu Ibu Dodo.

Waktu itu aku pulang jogging dengan bapakku, aku menyapa beliau. Tetapi lebaran tahun ini tidak ketemu lagi karena beliau sudah meninggal karena penyakit diabetes. Padahal beliau usianya lebih muda dari orangtuaku.Who is the next????

Itu adalah pertanyaanku dalam hati. Tetapi jika waktu dan pikiranku kuhabiskan untuk mencari jawabannya hanya wasting time and energy. Karena di dalam ajaran agama Islam memang diajarkan bahwa semua orang akan mati jadi jangan takut mati tetapi persiapkan diri untuk kematian itu sendiri, cari bekal sebanyaknya untuk pulang ke kampung halaman  yang sejati karena kita ini dalam posisi “Waiting List “ 

Sphere: Related Content

Thu
25
Sep

University of Life

Posting by Tri

Saat pagi datang yang menandakan bergantinya hari, sangat berat untuk bangkit menyambutnya. Saat pagi datang berarti bertambah usia dunia ini, tetapi sangat berat untuk merayakannya. Bahkan sangat malas sekali untuk mengucapkan puji syukur padahal  masih diberi waktu olehNya untuk bisa melihat dunia.

Badan ini serasa ditindih  batu sehingga sangat susah untuk bergerak, bahkan untuk menggerakkan ibu jari . Apalagi bila dimemori sudah teringat harus bekerja bertambah beratlah tindihan batunya. Tetapi kalau teringat akan gajian serasa ada remote yang menggerakkan badan ini sehingga secepat kilat badan ini bangkit dari peraduan yang menyesatkan.

Penantian yang panjang untuk sampai tujuan kantor tercinta ( merasa cinta kalau akan gajian aja sih ) karena hampir satu jam perjalanan untuk sampai disana membuatku banyak merenung, mengantuk dan melamun di angkot. Disela renungan, kantukan dan lamunanku aku sedikit terpana oleh pemandangan yang sangat menyedihkan. Aku tidak melihat dari awal peristiwa tersebut, yang kulihat bapak tukang sayuran sudah terguling jatuh dengan gerobaknya. Barang dagangannya berserakan  di jalan. Sebagian orang yang lewat sibuk menolongnya, memasukkan barang dagangannya ke gerobak lalu tukang sayur itu dibopong ke pinggir jalan dan nampak lemas tak berdaya.

Aku tidak tahu peristiwa selanjutnya karena angkot yang kunaiki terus berlalu meninggalkan pemandangan itu. Aku merasa sedih karena aku tidak dapat menolongnya dan tidak bisa kubayangkan apa yang terjadi dengan bapak tukang sayur itu. Pikiranku berandai - andai jika sakitnya parah gimana? apakah ada orang yang akan membawanya ke rumah sakit. Jika harus ke rumah sakit berarti hari ini tidak dapat penghasilan lalu bagaimana dengan keluarganya jika dia satu - satunya tulang punggung keluarga.

Bila kurefleksikan pada diriku, alangkah beruntungnya sebenarnya diriku. Untuk cari penghasilan tidak harus mengandalkan fisik untuk beradu dengan kejamnya jalanan, teriknya cahaya matahari yang menyengat dan kemungkinan tidak membawa uang sepeserpun untuk dibawa pulang karena tidak ada pembeli.

Tetapi aku juga tidak tahu apakah pelajaran hidup yang sudah kuterima tersebut bisa mengubah pola hidupku. Tetapi paling tidak aku bisa menulisnya untuk selalu kubaca,  siapa tahu suatu saat  pengalaman tersebut  bisa mengetuk hatiku. Amien …

Sphere: Related Content

Web Replika Gratis Bisnis Pulsa DBS


Pustaka Nilna | Internet Bisnis | Sekolah Menulis | Internet Marketing | Internet Money | Jurnal Profesi
Tips & Article | Dunia Parenting | Pendidikan Rumah | Jurnalistik | Interesting Facts | Keynote Speaker | Shopping